Ludruk Seni Budaya Khas Jawa Timur Yang Wajib Dilestarikan

Ludruk Seni Budaya Khas Jawa Timur – Indonesia terkenal dengan potensi budayanya yang luar biasa. Ragam corak budaya Indonesia sangat bernilai dan juga bermakna. Maka dari itu sudah sepatutnya sebagai orang Indonesia untuk selalu melestarikan kebudayaannya. Dan salah satu dari sekian banyak budaya Indonesia yang wajib dilestarikan adalah Ludruk.

Ludruk Seni Budaya khas Jawa Timur yang Wajib Dilestarikan

Ludruk Seni Budaya khas Jawa Timur yang Wajib Dilestarikan

Ludruk adalah salah satu bagian dari budaya yang berupa drama yang berasal dari wilayah Jawa Timur yang biasanya banyak diminati kalangan masyarakat pedesaan. Kesenian drama tradisional Ludruk ini diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang digelar di sebuah panggung dengan mengambil tema cerita kehidupan sehari-hari atau cerita perjuangan.

Drama tradisional Ludruk juga diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai alat musiknya. Pada zaman dahulu, drama Ludruk biasanya dipentaskan di lapangan dan ditonton oleh banyak orang. Tontonan yang berisi tuntunan ini di kemas secara apik, sehingga banyak diminati masyarakat zaman dulu.

Dalam pementasannya, drama Ludruk menggunakan bahasa daerah sederhana. Selain itu kerap kali drama Ludruk menyisipkan kata-kata yang berisi sindiran, serta kritik-kritik tajam terhadap banyak hal yang sedang terjadi. Bahkan tak jarang, kebijakan pemerintahan saat itu, yang di rasa belum tepat, disentil  dengan dibungkus guyonan yang menghibur.

Dialog atau monolog dalam drama Ludruk bersifat menghibur para penonton. Maka tidak heran jika para penonton sering tertawa jika menonton pertunjukan drama Ludruk ini.  Biasanya drama Ludruk menggunakan bahasa khas Surabaya. Dengan bahasa yang lugas, ceplas-ceplos, sehingga penonton mampu dengan mudah memahami cerita yang disampaikan.

Ciri khas drama ludruk

Drama Ludruk memiliki ciri khas yang cukup unik. Keseluruhan pemain drama Ludruk biasanya terdiri dari pemain laki-laki, meskipun dalam dialog/monolognya adalah seorang perempuan, namun yang menjadi pemerannya adalah seorang laki-laki.

Kelompok pemain Ludruk ini cenderung terbentuk menjadi kelompok travesti. Hal ini dikarenakan seringnya pemain drama Ludruk laki-laki yang memainkan peran wanita. Tidak hanya itu, drama Ludruk juga memiliki ciri khas lainnya terkait tentang cerita, dekorasi, kostum, dan urutan pementasan.

Cerita drama Ludruk dibagi menjadi dua macam. Pertama, cerita pakem adalah cerita yang berisi tentang tokoh-tokoh terkemuka dari wilayah Jawa Timur, seperti tokoh Cak Sakera dan tokoh Sarif Tambak Yoso. Kedua, cerita fantasi merupakan sebuah cerita yang berasal dari karangan individu tertentu di mana biasanya berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Struktur pementasan drama Ludruk terdiri dari empat hal. Pertama, pembukaan yang berisi tari ngremo. Kedua, atraksi bedayan yang berupa penampilan beberapa travesti. Travesti ini berjoget ringan dengan menyenandungkan sebuah kidungan yang mana kidungan ini disebut kidungan jula-juli. Ketiga, adegan lawak atau dagelan. Keempat, penyajian lakon cerita. Di mana hal ini merupakan inti dari cerita yang dibawakan.

Sampai saat ini drama Ludruk masih digemari oleh masyarakat. Biasanya drama Ludruk ini ditampilkan di saat-saat tertentu, misalnya pada peringatan hari kemerdekaan, ulangtahun desa, pada acara festival, dan lain sebagainya. Selain itu, pada acara nikahan atau sunatan juga sering mementaskan seni ludruk ini.

Perkembangan seni ludruk

Harus di akui, berkembangnya teknologi saat ini, selain berdampak baik juga mempunyai dampak yang negatif. Khususnya di bidang seni. Saat eksistensi seni budaya semakin tersingkir tergerus kemajuan teknologi. Jarang sekali di zaman ini ada anak muda yang antusias terhadap pementasan suatu seni, khususnya seni drama Ludruk.