Jaran Kencak, Kesenian Khas Lumajang Jawa Timur

Jaran Kencak, Kesenian Khas Lumajang Jawa Timur – Kebudayaan merupakan suatu kebiasaan yang dipadukan dengan kesenianan atau suatu perlakuan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam wilayah tertentu. Setiap daerah di negeri ini, hampir semuanya memiliki kebudayaan khas. Seperti salah satunya yang akan kita bahas adalah kesenian Jaran Kencak, yang merupakan seni budaya khas daerah Lumajang.

Jaran Kencak, Kesenian Khas Lumajang Jawa Timur

Jaran Kencak, Kesenian Khas Lumajang Jawa Timur

Kesenian Jaran Kencak merupakan sebuah kesenian yang menonjolkan kelincahan kuda kencak sebagai ikonnya. Kesenian Jaran Kencak ini diperkirakan lahir pada masa Arya Wiraraja, yang memerintah kerajaan Lamajang pada saat itu. Menurut kisahnya, kerajaan Lamajang memiliki cakupan wilayah yang sangat luas yang mencakup wilayah tapal kuda dan juga daerah pulau Madura.

Asal Mula Seni Budaya Jaran Kencak

Disebut-disebut, orang yang menciptakan budaya kesenian Jaran Kencak ini adalah seorang pertapa sakti yang berasal dari gunung Lamongan. Pertapa sakti ini bernama Klabiseh. Klabiseh, memiliki sebuah kesaktian yang unik yaitu mampu menundukkan kuda liar dan membuatnya menari. Maka dari itu budaya ini disebut dengan kesenian Jaran Kencak.

Makna dari “Jaran Kencak” dalam budaya dan bahasa setempat adalah jaran (kuda) dan kencak (menari), di mana pada zaman dahulu kesenian ini sering dijadikan sebagai wujud suka cita masyarakat Lumajang atas kemakmuran dan kesejahteraan yang terdapat di wilayahnya. Menurut versi lain, kesenian Jaran Kencak ini merupakan sebuah wujud penghormatan pada kuda kesayangan milik adipati Ranggalawe yang terkenal pintar dan tangguh pada zamannya yang bernama Nila Ambhara.    

Kesenian Jaran Kencak ini tidak hanya menampilkan kuda polos saja, namun menggunakan kuda yang dihias dengan berbagai pernak-pernik berwarna-warni yang ditunggangkan di atas kuda. Jadi kuda kencak ini terkesan memiliki nilai budaya dan seni yang tinggi. Tidak hanya itu, iringan musik tradisional juga turut meramaikan kesenian Jaran Kencak dengan tambahan nyanyian yang disenandungkan oleh pemilik atau pelatih kuda kencak ini.

Iringan musik tradisional yang biasanya mengiringi kesenian Jaran Kencak ini adalah alat musik seperti, kenong, gong, sronen, dan ketipung. Paduan seluruh alat musik ini mangalun menjadi satu dan menghasilkan suara yang indah dan pas untuk iringan Jaran Kencak. Ditambah dengan nyanyian yang disenandungkan oleh pengiring atau pelatih kuda kencak yang semakin menambah sempurna iringan musik Jaran Kencak ini.

Tidak hanya itu, biasanya kesenian Jaran Kencak sering dipadukan dengan kesenian Reog Ponorogo. Jadi jatilan pun juga ikut meramaikan kesenian ini. tidak hanya itu, orang yang memakai topeng dalam kesenian Reog Ponorogo pun juga ikut serta dalam kesenian Jaran Kencak ini.

Pada saat ini, budaya kesenian Jaran Kencak sangat diminati oleh banyak kalangan. Biasanya budaya kesenian Jaran Kencak muncul pada acara-acara tertentu di sebuah desa atau kota. Acara-acara yang biasanya menampilkan budaya kesenian Jaran Kencak ini adalah acara sunatan, slametan, pernikahan, syukuran, karnaval bahkan hari jadi Kabupaten Lumajang.

Biasanya orang-orang di desa khususnya, sering mengundang kesenian Jaran Kencak sebagai hiburan utamanya. Lalu Jaran Kencak ini digiring mulai dari rumah yang memiliki hajatan melewati jalan-jalan besar, lalu singgah di rumah sanak saudara yang memiliki hajatan, lalu ke balai Desa untuk melakukan pertunjukan bagi umum. Jadi masyarakat sekitar banyak yang melihat dan merasa terhibur dengan kesenian Jaran Kencak ini, karena keunikannya.

Kesenian Jaran Kencak merupakan warisan budaya nenek moyang yang harus dijaga kelestariannya. Idealnya, sudah menjadi kwajiban kita sebagai orang tua, mengenalkan kesenian ini secara turun menurun pada anak cucu agar tidak hilang dimakan zaman.