Budaya Glipang, Seni Tari khas Lumajang yang Wajib Dilestarikan

Glipang Seni Tari khas Lumajang – Budaya merupakan salah satu hal yang selalu menarik untuk dibahas, yang biasanya  menjadi ciri khas utama di setiap negara. Dan negara kita, merupakan salah satu negara yang sangat kaya akan ragam budayanya. Yang mana salah satunya ialah seni budaya tari Glipang dari daerah Lumajang Jawa Timur.

Glipang Seni Tari khas Lumajang

Glipang Seni Tari khas Lumajang

Tari Glipang merupakan sebuah tradisi budaya yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Kesenian ini sudah ada sejak tahun 1918. Konon, tari Glipang ini diciptakan oleh KH. Buyah, yang mana tujuan diadakannya tarian ini ialah untuk menghibur diri akibat adanya tekanan di masa penjajahan. Tarian ini bermotif sekaran-sekaran beladiri pencak silat. Jadi, dalam tarian ini yang menjadi ciri khasnya adalah terdapat tendangan serta tangkisan yang dipadupadankan dengan berbagai gerakan lemah gemulai yang identik dengan seni tari. Jika dilihat, kesenian Glipang ini merupakan tari kelompok yang menggambarkan kegagahan prajurit atau pemuda yang sedang berlatih perang.

Arti Nama Glipang

Istilah “Glipang” ternyata berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti “Goliban.” Makna ini mengandung arti tentang kegiatan yang bisa dilakukan oleh para santri di pondok dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, tari Glipang juga mengandung makna simbolis mengenai jumlah penari 5 orang. Ternyata hal ini berhubungan dengan Islam yaitu jumlah sholat dalam satu hari yaitu 5 waktu.

Pada umumnya, tari Glipang selalu dibawakan oleh 5 laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan jika tarian ini dilakukan oleh perempuan asalkan tidak melanggar aturan-aturan yang terdapat di dalamnya.

Seperti ragam tari lainnya, tari Glipang juga selalu diiringi oleh beberapa alat musik yang tentunya hal ini semakin membuat daya tarik tersendiri. Alat musik yang mengiringi tari Glipang biasanya adalah ketipung lanang wadon, jedor, rebana, serta kecrek. Selain itu tarian Glipang ini juga diiringi oleh vokal pria. Di mana pementasan tari Glipang ini diawali dengan barisnya para penari yang telah menggunakan aksesoris tari Glipang yaitu busana iket, baju, celana yang ditambah dengan aksesoris seperti pangkat, sampur, dan gongseng.

Dalam pertunjukannya, tari Glipang ini dibagi menjadi empat tahap. Pertama, ada tari Ngremo Glipang atau yang biasa disebut tari Kiprah Glipang. Kedua, tari baris yang biasanya dibawakan oleh penari pria yang diiringi dengan tampilan pelawak yang juga dibawakan oleh seorang pria. Ketiga, tari pertemuan yang dibawakan oleh pria dan wanita yang berpasangan dan disertai tampilan pelawak pria dan wanita yang biasanya membawakan dialog yang lucu. Keempat, sandiwara yang mana hal ini membawakan cerita dengan tema tertentu yang bernafaskan agama Islam.

Selain berfungsi sebagai hiburan, tari Glipang ini juga berfungsi sebagai sarana pendidikan. Dalam penyajiannya, tari Glipang ini pesan pendidikan untuk masyarakat kecil atau masyarakat pedesaan. Selain itu, konon tari Glipang ini juga berfungsi sebagai sarana penyebaran agama Islam di daerah Lumajang.

Saat ini, tari Glipang masih diajarkan di sanggar-sanggar guna untuk melestarikan kesenian ini. Seringkali, pertunjukan kesenian Glipang diadakan pada saat-saat tertentu seperti Harjalu (Hari Jadi Kota Lumajang). Pengajaran Tari Glipang di sanggar juga mendapat dukungan dari pemerintah setempat dan masuk dalam sekolah-sekolah.

Pelestarian tari Glipang ini pastinya perlu ditingkatkan lagi. Misalnya dengan menggelar acara satu bulan sekali pertunjukan tari Glipang di suatu tempat dengan mengundang masyarakat umum untuk menyaksikannya. Cara lain adalah dengan galak mengenalkan kepada muda-mudi mengenai uniknya tari Glipang sebagai warisan nusantara yang wajib dilestarikan keberadaannya.

Nah, itulah ulasan terkait tari Glipang, budaya asal Lumajang yang wajib dilestarikan dan diwariskan pada anak cucu mendatang.